oleh

Siapkan Istana Bawah Tanah, Lima Miliarder Dunia Bahas Cara Menghindar dari Kiamat

HERALDMUSLIM.ID — Sejumlah miliarder dunia berkumpul di sebuah resort rahasia di gurun pasir. Mereka membahas hari kiamat. Bukan waktunya, melainkan bagaimana cara menghindarinya.

Pertemuan itu diungkap Douglas Rushkoff, seorang penulis buku, dosen, novelis grafis, kolumnis, dan ahli teori media. Pria 61 tahun itu hadir dalam pertemuan tersebut.

Rushkoff paling sering dianggap sebagai ahli teori media karena menciptakan istilah dan konsep termasuk media viral, asli digital, dan mata uang sosial.

Dia telah menulis sepuluh buku tentang media, teknologi, dan budaya. Dia menulis kolom sindikasi pertama tentang budaya siber untuk The New York Times Syndicate, serta kolom reguler untuk The Guardian of London.

Rushkoff saat ini adalah Profesor Teori Media dan Ekonomi Digital di City University of New York, Queens College. Dia sebelumnya mengajar di The New School University di Manhattan dan ITP di Tisch School of the Arts Universitas New York.

Dia juga mengajar online untuk Akademi MaybeLogic. Douglas Rushkoff telah dinyatakan sebagai pemikir paling berpengaruh ke-6 di dunia oleh MIT setelah Steven Pinker, David Graeber, pemenang hadiah Nobel Daniel Kahneman, Thilo Sarrazin, dan Richard Florida.

Douglas diundang khusus dalam pertemuan tersebut. Disebut-sebut mendapat bayaran sepertiga dari gaji profesornya selama setahun. Tiket pesawat ditanggung dan naik limousine selama tiga jam ke lokasi yang dirahasiakan.

Dia menceritakan, ada lima tokoh utama dalam pertemuan tersebut. Mereka terdiri atas investor teknologi papan atas dunia, pejabat lembaga keuangan, dan dua di antaranya adalah miliarder.

Dalam program Drawing Room milik ABC Radio National, Douglas menceritakan, awalnya pembicaraan seputar teknologi. Namun, lama-lama mulai mengarah kepada hari kiamat.

Mereka membahas kehancuran lingkungan, kerusuhan sosial, ledakan nuklir, badai matahari, virus yang tak bisa dihentikan, atau peretasan komputer berbahaya yang akan menghancurkan segalanya.

Kelima orang ini adalah orang kaya-raya yang yakin peradaban manusia dapat runtuh kapan saja. Mereka sangat ingin mendengar pendapat Douglas bagaimana caranya bisa menghindar dari itu.

Seseorang bahkan bertanya, tempat yang paling aman di dunia ketika kiamat terjadi, apakah Selandia Baru atau Alaska? Yang lain sudah menyiapkan bunker dan penjaga keamanan.

Douglas mengaku tidak bisa menjawab pertanyaan miliarder tersebut. Orang-orang yang mendapat keistimewaan di dunia tersebut ternyata memikirkan kehancuran dunia.

Pertemuan tersebut ditulis Douglas di situs Medium. Juga dalam buku berjudul “Survival of the Richest: Escape Fantasies of the Tech Billionaires”.

Selain kelima miliarder tersebut, salah satu pendiri PayPal yang pendukung Donald Trump, Peter Thiel juga mengkhawatirkan hari kiamat. Dia sudah membeli sebidang tanah di kawasan terpencil di Selandia Baru.

Peter sempat berencana membangun penginapan mewah yang berbentuk seperti bunker. Namun, Dewan Wilayah Queenstown Selandia Baru menolak rencananya.

Lalu, satu perusahaan bernama Vivos memanfaatkan kekhawatiran soal kiamat dengan menjual apartemen mewah di bawah tanah. Tempat ini dulunya sebuah fasilitas di era Perang Dingin, kemudian direnovasi.

Bangunan bekas tempat penyimpanan rudal tersebut sekarang lengkap dengan kolam renang dan bioskop.

Sementara Jeff Bezos ingin pergi ke luar angkasa dan Mark Zuckerberg memiliki metaverse virtualnya. Ray Kurzweil, salah satu kepala ilmuwan di Google, punya tujuan utama membangun komputer yang dapat menampung otaknya.

Atas kecemasan orang-orang tersebut, Daoglas berpesan, “Cara mencegah malapetaka adalah dengan mulai memperlakukan orang lain dengan lebih baik sekarang.”

“Tapi itu bukan cara Amerika. Itu tentu bukan pola pikir bagi mereka yang ingin berkuasa di atas umat manusia lainnya.”

Jadi apa pesan utama Douglas untuk umat manusia? “Kita perlu menyadari kalau kita menjalani semua ini bersama-sama, dan kita melakukan lebih sedikit (tak ambisius), menjadi lebih membumi, dan lebih sosial… Ini mengubah apa yang kita anggap sebagai kesuksesan.”

“Bagaimana bisa bekerja keras untuk membuat dunia ini lebih baik?” tutupnya mengutip laporan Hellena Souisa dari laporan ABC News. (*)

Komentar